MENGENANG EYANG SASTROHAMIJOYO, SANTRI KETURUNAN SUNAN KALIJAGA YANG JADI CARIK DAN MENDAKWAHKAN ISLAM DI WONOSALAM DEMAK

Oleh : M Kholidul Adib

Pendahuluan

Eyang Sastrohamijoyo merupakan sosok santri priyayi yang memilki jasa besar dalam mengembangkan dakwah Islam di Wonosalam. Beliau merupakan Carik Desa Wonosalam. Ayahnya, Raden Kusumo masih keturunan Sunan Kalijaga. Masa hidup Eyang Sastrohamijoyo sezaman dengan Pangeran Wijil V (Pemimpin Perdikan Kadilangu) yang wafat tahun 1880. Eyang Sastrohamijoyo hidup kisaran tahun 1800-1885 M. Pada saat terjadi perang Diponegoro tahun 1825-1830 beliau sudah menginjak usia remaja/pemuda. Masa kecil Eyang Sastrohamijoyo di Wonosalam dihabiskan dengan belajar agama kepada orang tuanya dan bermain dengan anak-anak sebaya. Eyang Sastrohamijoyo kecil sudah menunjukkan talenta sebagai anak yang rajin belajar dan menggemari ilmu terutama ilmu agama dan kadigdayaan mengingat era itu masih dalam suasana penjajahan Belanda yang mebutuhkan keteguhan iman dan ilmu kadigdayaan supaya bisa menjaga kehormatan agama dan keselamatan diri dan keluarga.

Rumah Eyang Sastrohamijoyo berada tidak jauh dari lokasi sungai Tuntang di Wonosalam yang kala itu mengalirkan air ke arah kawasan Demak Kota. Eyang Sastroamijoyo menikah sebanyak 9 kali (menikah 9 kali tidak dalam satu waktu melainkan ketika ada istri meninggal atau cerai baru menikah lagi). Dari hasil menikah sebanyak 9 kali memiliki tiga anak. Anak pertama hidup di Malaysia, anak kedua berdomisili di Batu Karangtengah Demak dan si bungsu Eyang Abdul Kadir berdomisili di dukuh Gading desa Candisari kecamatan Mranggen kabupaten Demak. Abdul Kadir adalah anak dari istri kedelapan dari Desa Ploso Karangtengah (anak lurah Ploso, desa sebelah Wonosalam). Saat Eyang Sastrohamijoyo menikah yang kedelapan yang hasilnya memiliki anak ketiga bernama Abdul Kadir.

Anak-anaknya meminta Eyang Sastrohamijoyo menikah lagi untuk yang kesembilan kali supaya ada yang menemani sehari-hari.

Eyang Sastrohamijoyo dikenal sebagai tokoh pemerintah desa yang juga memahami ajaran Islam. Beliau rajin ibadah dan lelaku (tirakat), ciri khas ulama kampung yang selalu membimbing umat untuk teguh memegang ajaran agama di tengah keterbatasan akibat penjajahan Belanda.Eyang Sastrohamijoyo dikenal gemar tirakat dan lelaku spiritual. Saat anaknya yang bungsu, Abdul Kadir masih kecil ibunya meninggal kemudian membawanya ke Pondok Pesantren Ngroto Gubug untuk mendalami agama Islam.

Masa Ontran-Ontran di Kadilangu

Pada tanggal 11 Oktober tahun 1880 Pangeran Wijil V, dzurriyah Sunan Kalijaga yang menjadi pemimpin tanah perdikan Kadilangu Demak wafat. Kemudian terjadi rebutan siapa yang akan menjadi pemimpin di Kadilangu (orang tua dulu menyebutnya ontran-ontran akibat ada dua pangeran kembar).Ontran-ontran ini terjadi selama 3 tahun (1880-1883) sehingga terjadi kekosongan atau tidak ada pemimpin resmi yang berkuasa di Kadilangu. Situasi kala itu taEyang rumit saat tiba hari raya Idul Adha.Sesuai adat di keluarga Kadilangu, biasanya diadakan penjamasan pusaka peninggalan Sunan Kalijaga yaitu jamasan baju kotang Ontokusumo dan keris Kiai Cerubuk. Namun karena ada dua pangeran berebut tahta, maka untuk keadilan dicarilah ahli waris yang netral dan paling sepuh. Setelah dicari garis keturunan sepuh yang netral hasilnya jatuh pada keluarga Eyang Setro (panggilan akrab Eyang Sastrohamijoyo).

Berhubung Eyang Setro sudah sepuh sementara anak-anaknya yang sudah dewasa berdomisili di luar daerah, maka anaknya bernama Abdul Kadir yang masih remaja dan sedang mondok di pesantren Ngroto Gubug dijemput pulang guna mengambil dua pusaka Sunan Kalijaga yang saat itu disimpan di atas Masjid Agung Demak.Abdul Kadir pun dijemput menggunakan kereta kuda untuk pulang ke Demak guna melaksanakan tugas.

Setelah tugas mengambil dua pusaka peninggalan Sunan Kalijaga dapat dilaksanakan dengan baik maka Abdul Kadir kembali ke pondok. Setelah itu dua pusaka Sunan Kalijaga disimpan di Kadilangu.Tak berapa lama, ontran-ontran rebutan pimpinan di Kadilangu berhasil reda setelah terbit Surat Keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda Nomor 16, tertanggal 5 Mei 1883, tentang Pengangkatan Ngabei Notobroto menjadi Kepala Perdikan Kadilangu.

Eyang Sastrohamijoyo Wafat

Pada kisaran tahun 1885-an Eyang Sastrohamijoyo yang sudah sepuh sakit kemdian wafat dalam usia 80-an tahun. Beliau dimakamkan tidak jauh dari rumahnya yang berada di dekat Sungai Tuntang di Desa Wonosalam perbatasan dengan Desa Ploso. Sungai Tuntang salah satu sungai bersejarah yang berperan penting dalam kehidupan masyarakat Demak. Sungai Tuntang berasal dari mata air Gunung Merbabu mengalir di sebelah selatan Gunung Ungaran menuju ke Demak dan bermuara di Laut Jawa.

Sungai Tuntang dahulu memiliki lebar 30 meter yang dapat dilewati oleh kapal-kapal dagang besar dari seluruh penjuru dunia. Pada zaman kolonial Belanda, Sungai Tuntang sering meluap, sehingga wilayah perkotaan Demak sering kebanjiran. Karenanya, dibangunlah tanggul di daerah Ploso, Kecamatan Wonosalam, sehingga aliran Sungai Tuntang membelok ke Kecamatan Bonang melalui Kalikondang, kemudian dialirkan ke laut. Dengan memindahkan aliran tersebut, sekarang Kota Demak tidak pernah banjir lagi.

Pemindahan Makam Eyang Sastrohamijoyo

Lokasi makam Eyang Sastrohamijoyo yang semula di dekat Sungai Tuntang ikut terkena dampak proyek Pemerintah Hindia Belanda yang membuat jalur Sungai Tuntang Baru yang lurus ke arah Kalikondang dan Bonang. Sedangkan Sungai Tuntang Lama yang ada di sepanjang perkotaan Demak karena alirannya mati dan terjadi sedimentasi. Sungai itu akhirnya menjadi daratan dan hanya tersisa 6-7 meter yang saat ini digunakan sebagai aliran drainase dari warga sekitar.Pada saat pencangkulan tanah untuk membuat jalur sodetan Sungai Tuntang Baru petugas yang mencangkul terasa sakit-sakitan. Kemudian didatangkan seorang ahli spiritual untuk melakukan “penerawangaan dan kontak batin”.

Hasilnya ahli spiritual tadi melihat sosok laki-laki tua namanya Eyang Sastrohamijoyo berpakaian Jawa sedang duduk menghadap arah barat di pinggang belakang ada keris sambil memegang tasbih seolah sedang berzikir. Kemudian memberi isyarat agar yang mengambil tanah sengker adalah ahli warisnya atau keluarganya yaitu Abdul Kadir dan diiring untuk dimakamkan ulang di makam umum Wonosalam di sisi bagian utara arah timur. Konon, setelah dimakamkan ulang diberi tetenger oleh pegawai Belanda berupa batu. Namun tetengernya kemudian sumingkir alias hilang. Hingga menyisakan gundukan tanah tanpa batu nisan.Lokasi makam yang disengker itu berada di bagian utara arah timur area pemakaman umum Wonosalam yang sekarang di sebelah jalan tol Semarang-Demak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *