Oleh ; Dr. M. Kholidul Adib, MSI.
(Kader Muda NU Kota Semarang dan Sekretaris Yayasan Ki Ageng Pandanaran Semarang)
Pendahuluan
Pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam yang sudah tua di Indonesia. Keberadaannya sudah ada sejak era Walisongo (abad 15/16 M) yang hingga sekarang masih eksis dan bermanfaat bagi bangsa dan negara.
Dalam sejarahnya, pesantren memiliki peran penting dalam melahirkan nilai-nilai keagamaan, kebangsaan dan kebudayaan.
Pesantren telah berhasil menjadi tempat pembentukan karakter dan intelektualitas santri, serta menjaga tradisi keislaman dan kebangsaan.
Sebagai lembaga pendidikan, pesantren tidak hanya mengajarkan ilmu agama, tetapi juga membentuk karakter dan kepribadian santri.
Pesantren terbukti berhasil melahirkan generasi yang beriman, berilmu, dan berkepribadian.
Ketika Belanda menjajah Nusantara (abad 17-20 M) dan pada awal abad 20 M menerapkan sistem pendidikan formal ala Eropa, namun pesantren masih tetap eksis dan terus berkembang hingga sekarang.
Menurut KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), pesantren merupakan sub-kultur Nahdlatul Ulama (NU). Para ulama pesantren yang menjadi pelopor utama pendirian NU di Surabaya tahun 1926.
KH Yusuf Chudlori dan Pesantren
Seiring perjalanan waktu pesantren selalu dinamis menghadapi perkembangan zaman. Di antara ulama pesantren yang dikenal memiliki komitmen dan konsisten mengembangkan pesantren di era sekarang adalah KH Yusuf Chudlori, pengasuh Pondok Pesantren Asrama Perguruan Islam (API) Tegalrejo, Magelang.
KH Yusuf Chudlori merupakan sosok yang sangat berpengaruh di kalangan warga NU dan memiliki komitmen kuat untuk hidmah (pengabdian) kepada NU.
KH Yusuf Chudlori memiliki beberapa kontribusi penting dalam hidmah NU, antara lain sangat peduli dengan pengembangan pesantren.
KH Yusuf Chudlori memiliki latar belakang keilmuan yang kuat, dengan pendidikan di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, dan pengalaman sebagai pengasuh pesantren. Beliau juga aktif dalam berbagai kegiatan sosial dan keagamaan, serta memiliki visi untuk membawa NU menjadi organisasi yang lebih inklusif dan moderat.
KH Yusuf Chudlori telah sukses mengembangkan Pondok Pesantren API Tegalrejo menjadi salah satu pusat pendidikan Islam yang terkemuka di Indonesia.
Dalam konteks pengembangan pesantren, KH Yusuf Chudlori mendukung upaya pemerintah untuk mengembangkan pesantren sebagai pusat pendidikan Islam yang berkualitas.
Beliau juga menekankan pentingnya menjaga tradisi dan nilai-nilai pesantren dalam proses pendidikan.
KH Yusuf Chudlori dan Kepemimpinan Santri
Selama di ranah politik KH Yusuf Chudlori menunjukkan sebagai sosok pemimpin santri yang matang. Walau memimpin partai politik besar tetapi tidak tergerus identitas kesantriannya, bahkan beliau justru mempertegasnya.
Di tengah dinamika politik Jawa Tengah, ia konsisten menjaga harmoni antara Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan Nahdlatul Ulama (NU), dua entitas yang secara historis memiliki ikatan ideologis dan kultural yang kuat.
Di saat PKB dikenal sebagai salah satu kekuatan politik terbesar kedua di Jawa Tengah dalam beberapa periode pemilu terakhir, KH Yusuf Chudlori tidak menjadikan posisinya sebagai kendaraan ambisi pribadi untuk meraih jabatan eksekutif maupun legislatif. Ia memilih menempatkan politik sebagai instrumen perjuangan nilai, bukan sekadar tangga kekuasaan.
Sebagai nahkoda partai, ia mampu mengonsolidasikan kader-kader berlatar belakang santri menjadi kekuatan politik yang terarah dan produktif.
KH Yusuf Chudlori dan Perda Pesantren
KH Yusuf Chudlori terihat aktif dalam melahirkan Perda Pesantren di Jawa Tengah untuk memperkuat implementasi Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren di tingkat daerah.
Regulasi ini menjadi payung hukum bagi pesantren untuk memperoleh pengakuan, dukungan anggaran, serta fasilitasi program dari pemerintah daerah dan para pemangku kepentingan.
Dengan capaian tersebut, KH Yusuf Chudlori menunjukkan bahwa politik dapat dijalankan secara berintegritas, berpihak pada pendidikan umat, dan tetap setia pada ruh perjuangan santri.
KH Yusuf Chudlori juga dikenal sebagai sosok yang santun, rendah hati, dan memiliki kemampuan komunikasi yang baik. Beliau aktif dalam berbagai kegiatan sosial dan keagamaan, serta memiliki jaringan yang luas di kalangan NU.
KH Yusuf Chudlori juga dikenal sebagai manajer handal organisasi. Beliau memiliki kemampuan untuk mengelola dan memimpin organisasi dengan efektif, serta memiliki visi yang jelas untuk membawa NU menjadi organisasi yang lebih maju dan inklusif.
Dalam konteks visi abad kedua NU, KH Yusuf Chudlori menekankan pentingnya menjaga tradisi Ahlussunnah wal Jamaah sambil bergerak dengan inovasi zaman.
Beliau juga menekankan pentingnya kemandirian dan martabat organisasi, serta khidmat yang lebih kuat bagi umat dan bangsa.
Dengan demikian, KH Yusuf Chudlori merupakan sosok yang sangat potensial untuk memimpin NU di abad kedua, dengan visi dan kemampuan yang kuat untuk membawa organisasi ini menjadi lebih maju dan inklusif. []


