HAUL KE-62 MBAH MARHUM, KIAI YANG GIGIH BERDAKWAH MERANGKUL DAN MENGAYOMI UMAT

Pendahuluan
Ratusan umat kyusuk dalam melantunkan kalimat thoyyibah atau tahlil dan pembacaan maulid dziba’ dalam meramaikan kegiatan haul Mbah Marhum yang ke-62 bertempat di pemakaman umum Pilang Dukuh Karanganyar Desa Blerong Kecamatan Guntur Kabupaten Demak (Sabtu, tanggal 8 Syawal 1446 H atau 28 Maret 2026).

Kegiatan haul diikuti oleh dzurriyah Mbah Marhum dan warga dukuh Karanganyar dan sekitarnya dalam rangka kirim do’a kepada sang kiai dan meneladani perjuangannya dalam berdakwah membumikan agama Islam di dukuh Karanganyar desa Blerong kecamatan Guntur kabupaten Demak.

Mbah Marhum hidup pada era penjajahan, era perjuangan revolusi fisik kemerdekaan dan era orde lama. Mbah Marhum dikenal memiliki jiwa pejuang yang gigih.

Beliau dikaruniai tanah yang luas sebagai modal dakwah dan bahkan masih bisa dinikmati oleh keturunannya hingga sekarang.

Latar Belakang Keluarga
Mbah Marhum lahir dari kalangan kaum santri di pedesaan yang taat beragama. Beliau merupakan anak laki-laki dari Mbah Darum yang berdomisili di Dukuh Karanganyar Desa Blerong Kecamatan Guntur Kabupaten Demak. Masa hidup Mbah Darum kisaran waktu antara tahun 1860-an hingga tahun 1940-an.

Belum ada data resmi kapan Mbah Marhum lahir namun diperkirakan lahir tahun 1900-an.

Pada tahun 1930-an, beliau menikah yang pertama dengan Mbah Parmi Binti Mustam yang melahirkan tiga putera yaitu Mbah Amin (lahir 1932 dan wafat tahun 2000 dalam usia 68), Mbah Azmi (lahir 1935 dan wafat sekitar tahun 1964 dalam usia 29 tahun) dan Mbah Fadhil (lahir 1938 dan wafat tahun 2020 dalam usia 82 tahun).

Pada tahun 1940-an, Mbah Parmi wafat, Mbah Marhum menikah yang kedua dengan Mbah Kardilah Binti Sarijo (wafat tahun 1987 dalam usia 75-an tahun) yang melahirkan dua anak yaitu Mbah Arif (lahir 1945 dan wafat tahun 2009 dalam usia 64 tahun) dan Mbah Umi (lahir 1948 dan wafat tahun 2024 dalam usia 76 tahun).

Berguru Kepada Syekh KH Abdullah Mudzakir Tambaksari
Mbah Marhum muda belajar ilmu agama Islam (baca tulis al-Qur’an dan tata cara ibadah) kepada guru ngaji di kampung.

Pada usia muda sekira 20an tahun atau tahun 1920-an Mbah Marhum berguru kepada Syekh KH Abdullah Mudzakir yang semula membuka pengajian di Masjid Kaligawe Sayung kemudian hijrah ke Dukuh Tambaksari Bedono Sayung Demak.

Syekh KH Abdullah Mudzakir dikenal alim dan mengadakan pengajian di Masjid Tambaksari Sayung dengan memiliki banyak santri.

Kebanyakan santrinya menjadi kiai masjid dan musholla yang tersebar di wilayah Kabupaten Demak dan sekitarnya.

Syekh KH Abdullah Mudzakir sewaktu kecil bernama Juraimi lahir tahun 1878 di Dukuh Jago Desa Wringinjajar Kecamatan Mranggen.

Beliau putra Mbah Ibrahim Suro yang masih keturunan Panglima Pangeran Diponegoro dan sang ibu yang masih keturunan Mbah Shodiq Jago Wringinjajar (keturunan Sunan Pandanaran).

Saat masih muda beliau menimba ilmu kepada banyak guru dan kiai dari berbagai daerah. Beliau pertama kali belajar di daerah Nganjuk Jawa Timur.

Setelah itu berguru kepada al-Syaikh Muhammad Sholeh bin Umar al-Samarani al-Jawi al-Syafi’i atau Mbah Sholeh Darat Semarang. Kemudian beliau juga belajar kepada KH. Abbas Buntet dari Cirebon.

Tahun 1900 beliau menikah dengan Mbah Murni dan menetap di Dukuh Tambaksari Desa Bedono Kecamatan Sayung Kabupaten Demak.

Beliau menekuni profesi sebagai petani dengan memiliki tanah sawah yang luas.

Sewaktu menunaikan ibadah haji tahun 1925 namanya diganti menjadi Abdullah Mudzakir.

Saat terjadi perang kemerdekaan, tepatnya perang 10 Nopember 1945 di Surabaya melawan tentara Sekutu dan NICA Belanda, Mbah Mudzakir bersama KH Abbas Bunter Cirebon ikut perang di jembatan merah Surabaya.

Peristiwa perang ini kemudian dikenang sebagai hari pahlawan.
Mbah Mudzakir wafat di usia sekitar 72 tahun di Dusun Tambaksari Desa Bedono Sayung pada tanggal 13 September tahun 1950 M atau 30 Dzul Qo’dah tahun 1369 H. Dimakamkan sekitar jam 13.00 di pemakaman Dusun Tambaksari bersama dengan beberapa keluarga beliau.

Makam Syekh KH Abdullah Mudzakir sekarang berada di laut pesisir Sayung dan menjadi destinasi wisata religi yang ramai diziarahi umat Islam.

Menjadi Kiai Masjid
Mbah Marhum pada tahun 1930-an mulai mengamalkan ilmunya dengan mengajari masyarakat terutama anak-anak untuk belajar agama seperti membaca al-Qur’an, tata cara ibadah dan mengisi majelis ta’lim.

Beliau dipercaya untuk menjadi kiai Musholla di kampung tengah Dukuh Karanganyar Blerong Guntur Demak.

Lokasi Musholla Mbah Marhum saat itu berada di samping timur kediaman Ibu Musyarofah.

Di depan Musholla terdapat pohon sawo sebagai sandi jaringan rahasia gerakan kaum santri pasca perang Diponegoro. Hingga awal tahun 1990-an kentongan bekas Musholla Mbah Marhum masih ada dan tergantung di pohon asam di depan rumah alm. Mbah Sakirun.

Suatu saat Mbah KH Abdullah Sajad yang semula menjadi kiai masjid Karanganyar diminta untuk melanjutkan pesantren mertuanya di Genuk Ungaran, maka beliau mencari siapa kiai yang layak menjadi penggantinya sebagai imam di masjid Karanganyar.

Pilihan jatuh kepada Mbah Marhum. Namun Mbah Marhum belum langsung menjawab iya.

Sebaliknya beliau sowan dahulu menghadap gurunya, Syekh KH Abdullah Mudzakir di Tambaksari Sayung guna memohon petunjuk, bimbingan dan arahan.

Setelah menyimak pemaparan Mbah Marhum maka Syekh KH Abdullah Mudzakir merestui dan menilai ilmu yang dimiliki Mbah Marhum sudah cukup untuk menjadi bekal sebagai kiai masjid.

Mbah Marhum melaksanakan amanah sebagai kiai masjid dengan baik.

Lokasi masjid yang semula ada di pekarangan seberang jalan rumah Mbah Maseran (ayah Pak H Sukarno) kemudian dipindah di lokasi yang lebih tengah dukuh Karanganyar dengan memanfaatkan tanah wakaf (lokasi yang sekarang berdiri Masjid Baitul Mubarok).

Membangun Kemandirian Ekonomi
Mbah Markum memiliki jiwa dakwah dan perjuangan yang gigih. Jiwa itu tak lepas dari didikan gurunya yaitu Syekh KH. Abdullah Mudzakir.

Beliau juga membangun kemandirian ekonomi dengan memanfaatkan potensi pertanian yang melimpah.

Beliau bertani karena mengikuti gurunya KH Abdullah Mudzakir yang juga menekuni profesi sebagai petani yang sukses.

Mengingat saat itu masih zaman penjajahan sehingga pekerjaan masih susah namun tidak membuat beliau patah semangat untuk tetap survive dengan menjadi petani yang sukses.

Hasil pertanian melimpah sehingga dapat membeli tanah dan sawah yang lebih luas sehngga bisa dgunakan sebagai modal dakwah dan dapat diwariskan kepada anak-anak dan cucu-cucunya.

Strategi Dakwah
Masyarakat Dukuh Karanganyar Blerong terutama para orang tua yang dulu hidup di era Kiai Marhum mengenang pribadi Kiai Marhum sebagai sosok kiai yang rajin beribadah. Semula beliau menjadi imam musholla kemudian menjadi imam masjid jami’ Baitul Mubarok Karanganyar.

Beliau merupakan salah satu produk kaderisasi nyata Syekh KH Abdullah Mudzakir dalam berdakwah yang menggunakan strategi merangkul dan mengayomi umat.
Beliau mendidik warga untuk belajar membaca al-Qur’an, mengajari tata cara shalat, puasa, zakat, dan kegiatan keagamaan lainnya.

Sebagai tokoh agama Mbah Marhum mengajak umat di Dukuh Karanganyar untuk memeluk agama Islam sepenuh jiwa dengan istiqomah melaksanakan ibadah shalat berjama’ah di masjid, mengadakan pengajian rutin, melestarikan amalan dan tradisi Islam ala pesantren sebagaimana diajarkan oleh gurunya.

Mbah Marhum memiliki prinsip hidup harus memberi manfaat untuk sesama umat, karena itu beliau juga aktif dalam pemberdayaan ekonomi umat melalui sektor pertanian dengan mengajak kerjasama masyarakat untuk ikut mengelola sawah dan kebunnya dengan sistem bagi hasil atau upah.

Di samping itu beliau juga dikenal sering membantu warga dalam urusan sosial budaya misalnya membantu mencarikan jodoh maupun membantu warga yang sedang kena musibah.

Beliau juga ikut mempelopori nguri-nguri terbang blantenan yang sekarang sudah mulai jarang dipentaskan kecuali di beberapa masjid kuno seperti di Masjid Agung Demak.

Meneruskan Perjuangan Dakwah
Salah satu yang menjadi ciri khas Mbah Marhum adalah ketika melaksanakan shalat Jum’at disertai do’a qunut yang ternyata ini juga sama dengan shalat Jum’at di masjid Tambaksari Sayung. Menandakan ada kesinambungan antara beliau dan gurunya, yaitu Syekh KH Abdullah Mudzakir.

Setelah sang guru Syekh KH Abdullah Mudzakir wafat, Mbah Marhum selalu tabarrukan kepada gurunya. Misalnya, tiap acara haul Syekh KH Abdullah Mudzakir, tanggal 30 Dzul Qo’dah, Mbah Marhum selalu hadir.

Dengan terbatasnya sarana dan beratnya medan jalan kala itu, beliau tetap datang dengan berangkat dan pulang berjalan kaki menempuh perjalanan puluhan kilo meter.

Wafat
Mbah Marhum wafat pada bulan Januari 1966 M atau bulan Ramadlan tahun 1385 H dalam usia sekitar 60-an tahun.

Dzurriyah dan Masyarakat masih memelihara dan meneruskan syiar Islam di dukuh Karanganyar Blerong.

Para dzurriyah Mbah Marhum dan masyarakat Karanganyar Blerong mengenang jasa-jasa Mbah Marhum dalam berdakwah dengan cara rutin mengadakan kegiatan haul tiap tahun.

Walau Mbah Marhum wafat di bulan Ramadlan, karena bulan Ramadlan masyarakat fokus menunaikan ibadah puasa, tadarus dan tarawih, maka kegiatan haul diadakan tiap tanggal 8 Syawal.

Tujuan haul adalah untuk mendo’akan beliau dan keluarganya sekaligus meneladani perjuangan beliau dengan melanjutkan perjuangan dakwah dan syiar Islam di Dukung Karanganyar Desa Blerong.(Adib)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *