Oleh : Eko Wisnu Atmojo dan M Kholidul Adib
Pendahuluan
Selasa, 23 Juni 2026 atau 8 Muharrom 1448 H keluarga besar Bani Abdul Kadir Bin Sastrohamijoyo mengadakan haul Mbah Abdul Kadir ke-81 di makam Gading Candisari Mranggen Demak.
Mbah Abdul Kadir merupakan sosok santri priyayi yang ikhlas dan merakyat.
Hal itu bisa kita lihat dari profile sejarah hidup beliau. Walau memiliki latar belakang keluarga priyayi tetapi rela menghabiskan hidupnya sebagai rakyat biasa.
Beliau adalah putera Mbah Sastrohamijoyo yang saat itu menjabat sebagai Carik Desa Wonosalam Demak.
Mbah Abdul Kadir kecil sudah menunjukkan talenta sebagai anak yang rajin belajar dan menggemari ilmu terutama ilmu agama.
Masa kecil di Wonosalam dihabiskan dengan belajar agama kepada orang tuanya dan bermain dengan anak-anak sebaya.
Di usia remaja hingga pemuda Mbah Abdul Kadir mengenyam pendidikan di pondok pesantren Ngroto Gubug dalam waktu cukup lama sehingga menjadi lurah pondok (era Mbah Ishaq, cucu Syekh Sirajuddin) dan lanjut di pesantren Girikesumo Banyumeneng Mranggen.
Setelah Mbah Abdul Kadir menikah dan berdomisili di Dukuh Gading Desa Candisari Kecamatan Mranggen Kabupaten Demak bersama Mbah Abu Mi’roj berjuang mendakwahkan agama Islam di daerah yang semula masih abangan hingga berubah menjadi kampung santri.
Latar Belakang Keluarga
Mbah Abdul Kadir lahir 28 Juni 1871 di Desa Wonosalam Demak.
Mbah Abdul Kadir adalah putera Mbah Sastrohamijoyo, yang saat itu menjabat sebagai Carik Wonosalam Demak. Mbah Sastrohamijoyo memiliki orang tua bernama Raden Kusumo yang masih dzurriyah Sunan Kalijaga.
Mbah Sastrohamijoyo diperkirakan lahir kisaran tahun 1810-an pada saat terjadi perang Diponegoro tahun 1825-1830 beliau sudah menginjak usia remaja.
Masa hidup Mbah Sastrohamijoyo sezaman dengan Pangeran Wijil V (Pemimpin Perdikan Kadilangu) yang wafat tahun 1880.
Rumah Mbah Sastrohamijoyo berada tidak jauh dari lokasi sungai Tuntang di Wonosalam yang kala itu mengalirkan air ke arah kawasan Demak Kota.
Mbah Sastroamijoyo menikah sebanyak 9 kali (menikah 9 kali tidak dalam satu waktu melainkan ketika ada istri meninggal atau cerai baru menikah lagi). Dari hasil menikah sebanyak 9 kali memiliki tiga anak.
Anak pertama hidup di Malaysia, anak kedua berdomisili di Batu Karangtengah Demak dan si bungsu Mbah Abdul Kadir berdomisili di dukuh Gading desa Candisari kecamatan Mranggen kabupaten Demak.
Mbah Abdul Kadir adalah anak dari istri kedelapan dari Desa Ploso Karangtengah (anak lurah Ploso, desa sebelah Wonosalam).
Saat Mbah Sastrohamijoyo menikah yang kedelapan yang hasilnya memiliki anak ketiga bernama Mbah Abdul Kadir.
Mondok di Ngroto Gubug
Mbah Sastrohamijoyo dikenal gemar tirakat dan lelaku spiritual. Saat Mbah Abdul Kadir masih kecil ibunya meninggal.
Mbah Sastrohamijoyo oleh anak-anaknya yang sudah dewasa diminta menikah lagi dengan istri yang kesembilan. Mbah Abdul Kadir yang baru menginjak remaja oleh ayahnya dibawa mondok di Ngroto Gubug.
Di Pesantren Ngroto Mbah Abdul Kadir belajar mendalami ilmu agama.
Pada tahun 1883 Mbah Abdul Kadir pulang ke Wonosalam untuk dikhitan.
Pada saat dikhitan dan belum sembuh ikut saudaranya menggembala ternak bebek di sekitaran stasiun Kereta Api Demak.
Tiba-tiba terjadi letusan gunung Krakatau di selat Sunda yang sangat dahsyat. Dampak letusan gunung Krakatau terasa sampai luar negeri.
Langit pekat hitam akibat abu vulkanik. Bebek yang diangon ikut terkubur abu vulkanik. Abdul Kadir kecil dicari bibinya dan ketemu di stasiun Demak kemudian diajak pulang.
Saat mondok di Ngroto Gubug suatu hari Mbah Yai pengasuh pesantren menerima tamu seorang sayyid (keturunan Rasulullah SAW) yang kebetulan buta.
Ketika sang sayyid mau berjalan meminta agar ditemani santri dari Demak yang bernama Abdul Kadir untuk menuntun membantunya jalan dalam suatu kegiatan berdakwah. Namun saat menuntun jalan tidak boleh melangkahi bayangan sang sayyid.
Setelah mondok di Ngroto Gubug cukup lama hingga menjabat posisi lurah pondok maka Mbah Abdul Kadir yang sudah menjadi pemuda disuruh menikah dengan putri Mbah Kyai pengasuh pondok tapi beliau belum mau menikah karena masih ingin menuntut ilmu.
Masa Ontran-Ontran di Kadilangu
Saat Mbah Abdul Kadir masih mondok di Ngroto Gubug, pada tanggal 11 Oktober tahun 1880 Pangeran Wijil V, dzurriyah Sunan Kalijaga yang menjadi pemimpin tanah perdikan Kadilangu Demak wafat.
Kemudian terjadi rebutan siapa yang akan menjadi pemimpin di Kadilangu (orang tua dulu menyebutnya ontran-ontran akibat ada dua pangeran kembar).
Ontran-ontran ini terjadi selama 3 tahun (1880-1883) sehingga terjadi kekosongan atau tidak ada pemimpin resmi yang berkuasa di Kadilangu.
Situasi kala itu tambah rumit saat tiba hari raya Idul Adha.
Sesuai adat di keluarga Kadilangu, biasanya diadakan penjamasan pusaka peninggalan Sunan Kalijaga yaitu jamasan baju kotang Ontokusumo dan keris Kiai Cerubuk.
Namun karena ada dua pangeran berebut tahta, maka untuk keadilan dicarilah ahli waris yang netral dan paling sepuh.
Setelah dicari garis keturunan sepuh yang netral hasilnya jatuh pada keluarga Mbah Setro (panggilan akrab Mbah Sastrohamijoyo).
Berhubung Mbah Setro sudah sepuh (usia sudah 70-an tahun) sementara anak-anaknya yang sudah besar sudah di daerah lain, maka anaknya bernama Abdul Kadir yang masih remaja dan sedang mondok di pesantren Ngroto Gubug diminta pulang guna mengambil dua pusaka Sunan Kalijaga yang saat itu disimpan di atas Masjid Agung Demak.
Abdul Kadir pun dijemput menggunakan kereta kuda untuk pulang ke Demak guna melaksanakan tugas.
Setelah tugas mengambil dua pusaka peninggalan Sunan Kalijaga dapat dilaksanakan dengan baik maka Abdul Kadir kembali ke pondok. Setelah itu dua pusaka Sunan Kalijaga disimpan di Kadilangu.
Tak berapa lama, ontran-ontran rebutan pimpinan di Kadilangu berhasil reda setelah terbit Surat Keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda Nomor 16, tertanggal 5 Mei 1883, tentang Pengangkatan Ngabei Notobroto menjadi Kepala Perdikan Kadilangu.
Berguru Kepada Mbah Hadi di Girikesumo Mranggen
Pulang usai mondok di Ngroto Gubug, Mbah Abdul Kadir yang dikenal memiliki suara merdu itu sempat tinggal di rumah dan ikut aktif kegiatan di Masjid Agung Demak di antaranya dengan berperan sebagai salah satu muadzin di Masjid Agung Demak yang bersejarah itu.
Namun dahaga akan ilmu pengetahuan membuatnya merasa masih ingin mondok lagi maka kemudian berangkat ke pesantren Girikesumo Banyumeneng Mranggen Demak untuk berguru kepada KH Muhammad Hadi (Mbah Hadi), mursyid thoriqoh Naqsyabandiyah Kholidiyah yang masih keturunan Mbah Shodiq Jago Wringinjajar yang nasabnya sampai Ki Ageng Pandanaran.
Mbah Abdul Kadir merasa senang dan kerasan di pesantren Girikeusumo Banyumeneng Mranggen.
Mbah Abdul Kadir bersama keponakannya, Mbah Madrani, mondok di sana, ketika berangkat ke Pesantren Girikesuma seringnya naik kuda.
Selama di Pesantren Girikesumo Mranggen, Mbah Abdul Kadir dan Mbah Madrani belajar mendalami ilmu agama Islam.
Kepada para santri, Mbah Hadi mengajarkan ilmu agama dan amalan-amalan aurod thoriqoh, serta menanamkan rasa cinta tanah air dan pentingnya kedaulatan pribumi agar tidak tunduk kepada penjajah.
Pada masa hidup Mbah Hadi pasca perang Diponegoro para ulama yang tergabung dalam jaringan penerus perjuangan masih gigih melawan penjajah dengan menjalankan strategi benteng pendem di antaranya memakai sandi pohon sawo yang ditanam di depan masjid atau musholla.
Para ulama juga membangun hubungan dengan menikahkan anak-anak mereka.
Mbah Sastrohamijoyo Wafat
Ketika Mbah Abdul Kadir masih mondok di Girikesumo, Mbah Sastrohamijoyo yang sudah sepuh sakit.
Mbah Abdul Kadir kemudian pulang. Mbah Sastrohamijoyo wafat dalam usia 80-an tahun.
Beliau dimakamkan tidak jauh dari rumahnya yang berada di dekat Sungai Tuntang di Desa Wonosalam perbatasan dengan Desa Ploso.
Sungai Tuntang salah satu sungai bersejarah yang berperan penting dalam kehidupan masyarakat Demak.
Sungai Tuntang berasal dari mata air Gunung Merbabu mengalir di sebelah selatan Gunung Ungaran menuju ke Demak dan bermuara di Laut Jawa.
Sungai Tuntang dahulu memiliki lebar 30 meter yang dapat dilewati oleh kapal-kapal dagang besar dari seluruh penjuru dunia.
Pada zaman kolonial Belanda, Sungai Tuntang sering meluap, sehingga wilayah perkotaan Demak sering kebanjiran.
Karenanya, dibangunlah tanggul di daerah Ploso, Kecamatan Wonosalam, sehingga aliran Sungai Tuntang membelok ke Kecamatan Bonang melalui Kalikondang, kemudian dialirkan ke laut.
Dengan memindahkan aliran tersebut, sekarang Kota Demak tidak pernah banjir lagi.
Lokasi makam Mbah Sastrohamijoyo yang semula di dekat Sungai Tuntang ikut terkena dampak proyek Pemerintah Hindia Belanda yang membuat jalur Sungai Tuntang Baru yang lurus ke arah Kalikondang dan Bonang.
Sedangkan Sungai Tuntang Lama yang ada di sepanjang perkotaan Demak karena alirannya mati dan terjadi sedimentasi.
Sungai itu akhirnya menjadi daratan dan hanya tersisa 6-7 meter yang saat ini digunakan sebagai aliran drainase dari warga sekitar.
Pada saat pencangkulan tanah untuk membuat jalur sodetan Sungai Tuntang Baru petugas yang mencangkul terasa sakit-sakitan.
Kemudian didatangkan seorang ahli spiritual untuk melakukan “penerawangaan dan kontak batin”.
Hasilnya ahli spiritual tadi melihat sosok laki-laki tua namanya Mbah Sastrohamijoyo berpakaian Jawa sedang duduk menghadap arah barat di pinggang belakang ada keris sambil memegang tasbih seolah sedang berzikir.
Kemudian memberi isyarat agar yang mengambil tanah sengker adalah ahli warisnya atau keluarganya yaitu Abdul Kadir dan diiring untuk dimakamkan ulang di makam umum Wonosalam di sisi bagian timur laut.
Setelah dimakamkan ulang diberi tetenger oleh pegawai Belanda berupa batu. Namun tetengernya kemudian sumingkir alias hilang.
Lokasi makam yang disengker itu berada di pojok timur laut pemakaman umum Wonosalam yang sekarang persis di sebelah jalan tol.
Berwirausaha (Bisnis)
Usai Mbah Sastrohamijoyo wafat, di sela-sela mondok di Girikesumo, Mbah Abdul Kadir mulai menjalani hidup mandiri dengan belajar berwirausaha sekaligus untuk belajar kehidupan nyata dan bergaul dengan banyak orang.
Beliau pergi ke daerah Tugu Sayung untuk belajar tata cara membuat kerajinan emas seperti anting-anting, kalung, gelang dan cincin juga menerima service gelang atau anting-anting yang patah.
Beliau membeli sejumlah peralatan untuk bisa membuat kerajinan emas. Profesi ini sangat langka waktu itu dan hanya bisa dijalani oleh orang-orang tertentu apalagi biaya membeli peralatan emas lumayan mahal.
Setelah mampu membuat kerajinan emas dan membeli peralatannya, Mbah Abdul Kadir mulai praktik membuat emas dan mengembara menjadi kemasan, yaitu profesi berjualan emas keliling (saat itu mata pencarian masih sulit, masih zaman penjajahan Belanda dan hidup rakyat masih menderita).
Dalam pengembaraan berjualan emas keliling sampailah di banyak tempat dan berkenalan dengan banyak orang.
Hingga akhirnya hatinya jatuh cinta kepada gadis asal Dukuh Gading Desa Candisari Kecamatan Mranggen.
Membina Rumah Tangga
Pada tahun 1900-an Mbah Abdul Kadir menikah dengan Mbah Salipah putri Mbah Abdurrohman dan Mbah Mani’ah anak Mbah Tong Singo, Lurah Desa Jetis (sekarang menjadi dukuh Jetis digabung dengan desa Karangsono Mranggen).
Mbah Abdurrohman diyakini putra Mbah Subuh yang makamnya berada di Alas Roban Batang.
Hasil pernikahan Mbah Abdul Kadir dengan Mbah Salipah melahirkan seorang anak bernama Saleman (lahir 1911 dan wafat 1986 dalam usia 75 tahun).
Setelah Mbah Salipah wafat, Mbah Abdul Kadir menikah dengan Mbah Kardimah binti Mbah Modin Kardi yang memiliki istri bernama Sagimah binti Mbah Abdurrohman bin Mbah Subuh Batang.
Jadi Mbah Kardimah (istri kedua) masih keponakan Mbah Salipah (istri pertama).
Mbah Kardimah lahir pada tanggal 22 Nopember 1906.
Saat menikah dengan Mbah Abdul Kadir tahun 1915 usianya masih 9 tahun sedangkan Mbah Abdul Kadir usia 44 tahun.
Mbah Abdul Kadir sabar menunggu tidak mengumpuli Mbah Kardimah selama 3 tahun hingga usia 12 tahun Mbah Kardimah menginjak aqil baligh yang ditandai dengan haidlh.
Hasil pernikahan Mbah Abdul Kadir dengan Mbah Kardimah mempunyai empat anak yaitu Mbah Saikun (lahir 1926 dan wafat 1963 dalam usia 37 tahun), Mbah Sukri (lahir 1929 dan wafat tahun 2013 dalam usia 84 tahun), Mbah Matrohkatun Prayitno (lahir 1932 dan wafat 2008 dalam usia 76 tahun) dan Mbah Mat Sahid (lahir 1943 – sekarang).
Perjuangan dan Syiar Islam
Mbah Abdul Kadir masih menjalin hubungan baik dengan gurunya Mbah Muhammad Hadi (Girikesumo) dan pada hari-hari tertentu masih berangkat mengaji ke Girikesumo. Beliau memiliki jiwa pejuang dalam syiar Islam.
Kondisi masyarakat Desa Candisari saat itu umat Islam belum kuat.
Para tokoh desa setempat memohon nasehat kepada Mbah Hadi untuk membantu syiar Islam di Candisari.
Mendengar permohonan tokoh masyarakat Desa Candisari untuk memperhatikan syiar Islam di Candisari maka Mbah Hadi Girikesumo kemudian menyuruh cucu menantunya yang bernama Mbah Abu Mi’roj untuk membuka pemukiman di daerah Candisari Mranggen.
Mbah Abu Mi’roj adalah cucu menantu Mbah Hadi Girikesumo melalui jalur Mbah Ghofur.
Setelah mendapatkan tanah dari penguasa setempat yang peduli dengan syiar Islam di Desa Candisari maka dibukalah pemukiman baru di sisi utara Desa Candisari tepatnya di Dukuh Gading.
Mbah Abdul Kadir yang sudah sejak beberapa tahun berdomisili di Dukuh Gading sangat gembira dan bersama Mbah Abu Mi’roj melanjutkan berdakwah di Desa Candisari Kecamatan Mranggen.
Program prioritasnya adalah bagaimana dapat mendirikan sebuah masjid sebagai pusat dakwah Islam. Masjid berfungsi sebagai tempat shalat, belajar agama, hingga melayani umat.
Setelah mendapatkan tanah untuk lokasi pembangunan masjid tersebut maka dimulailah pembangunan masjid. Masjid Gading berhasil dibangun pada tahun 1912.
Serambi masjid pertama itu adalah pendopo rumah Mbah Abdul Kadir.
Mbah Abdul Kadir kemudian ikut aktif dalam syiar Islam di Gading dengan suaranya yang merdu kemudian menjadi muadzin di Masjid Gading.
Dalam perkembangannya Dukuh Gading berubah menjadi kampung santri dan tumbuh banyak pondok pesantren dan lembaga pendidikan.
Pribadi yang Ikhlas
Mbah Abdul Kadir memiliki kepribadian yang ikhlas dan merakyat.
Walau lahir dari keluarga priyayi Jawa yang berkecukupan namun tidak membuatnya angkuh dan sombong apalagi bergaya.
Bahkan beliau lebih nyaman menjadi rakyat biasa yang hidup di desa dan istiqomah mengikuti dawuh gurunya.
Beliau memiliki tanah di Wonosalam dan Ploso warisan orang tuanya namun tidak semuanya diambil.
Sebagian dijual untuk menjadi bekal hidup baru berumah tangga dan sebagian lagi diberikan kepada saudaranya.
Menurut cerita Mbah Kardimah (istri Mbah Abdul Kadir), bahwa Mbah Abdul Kadir sebetulnya mendapatkan jatah warisan tanah dari ibunya yang anak lurah Ploso, tapi karena jauh tidak dapat mengelolanya, sehingga warisan tanah diserahkan kepada saudaranya di Ploso.
Berkat kerja keras Mbah Abdul Kadir yang berdomisili di Dukuh Gading akhirnya memiliki tanah yang luas baik sawah maupun pekarangan yang dikelola dengan baik.
Beliau menghabiskan hidupnya dengan ikut berdakwah, bertani dan menjadi kemasan yaitu orang yang ahli dibidang kerajinan emas, sambil berdagang.
Wafat
Mbah Abdul Kadir wafat di Dukuh Gading Desa Candisari Kecamatan Mranggen Demak tanggal 21 November tahun 1947 pada hari Jum’at Pahing 8 Muharrom 1367 H dalam usia 76 tahun.
Makamnya di belakang MTs Negeri 1 Mranggen di Gading Candisari Mranggen Demak.
Saat Mbah Abdul Kadir wafat, usia Mbah Kardimah 41 tahun, selang beberapa tahun kemudian menikah dengan Modin Ruslan tetapi tidak dikaruniai anak, hingga Modin Ruslan wafat tahun 1980-an.
Mbah Kardimah membesarkan anak-anaknya hingga dewasa dan menikah.
Mbah Kardimah wafat pada tanggal 22 Oktober 1995 dalam usia 89 tahun. ()


