Marhaban ya Ramadlan, Bulan Penuh Berkah dan Ampunan

Oleh : Dr. M. Kholidul Adib, SHI, MSI.
(Ketua LTN PCNU Kota Semarang)

Bulan suci Ramadlan 1447 H telah tiba. Kamis 19 Februari 2026 umat Islam di seluruh penjuru dunia mulai melaksanakan ibadah puasa. Pada bulan Ramadlan umat Islam mengisinya dengan berbagai kegiatan keagamaan. Di siang hari umat Islam berpuasa menahan lapar dan minum serta hal-hal yang membatalkan puasa. Pada malam hari mengisinya dengan sholat tarawih, witir, tadarus al-qur’an, i’tikaf, tahajud. Selain itu juga dianjurkan untuk memperbanyak sedekah dan kajian keagamaan.
Salah satu kegiatan kajian keagamaan yang marak diadakan umat Islam adalah mengaji dan mendalami ilmu agama. Misalnya, ramadlan di pesantren terasa lebih hikmah dengan lautan ilmu dan amal. Para santri yang mengikuti ngaji posonan biasanya sudah mulai datang sejak beberapa hari sebelum puasa. Mereka akan mengikuti ngaji sejumlah kitab dengan kiai. Kitab-kitab yang dikaji pun beragam, dari yang kecil seperti aqidatul awam, fathul qorib, arbain nawawi; atau kitab-kitab sedang seperti fathul muin, bulughu marom, bahkan bagi santri senior mengaji kitab-kitab besar seperti tafsir jalalain, shohih bukhori, bidayatul mujtahid, ihya ulumuddin, yang untuk khatam seluruhnya butuh waktu bertahun-tahun.


Bagi anak-anak sekolah yang tidak di pesantren pun juga kadang dibuatkan program pesantren kilat. Kenapa disebut pesantren kilat? Karena kegiatan pembelajaran keagamaan dijalankan di bulan Ramadlan semata hanya dalam waktu beberapa pekan, bahkan ada yang hanya beberapa hari saja. Kegiatan pesantren kilat biasanya diadakan untuk mendidik anak-anak dan remaja untuk lebih mengetahui ajaran Islam yang bersifat dasar seperti baca tulis al-qur’an, tata cara wudlu, tata cara sholat, buka bersama, tarawih berjamaah dan mengaji. Kemudian juga diajari bersedekah berbagi makanan dengan anak yatim atau warga yang tidak mampu.
Tujuan Puasa
Ramadlan adalah bulan suci yang penuh berkah dan ampunan. Bulan dimana kita umat Islam memburu keberkahan dan ampunan dari Allah. Di bulan ini kita ditempa untuk meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT dan menahan hawa nafsu. Pada bulan Ramadlan umat Islam diperintah Allah SWT untuk berpuasa agar menjadi hamba Allah yang bertakwa. Sebagaimana dijelaskan di dalam QS. al-Baqarah ayat 183 yang berbunyi:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ علَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (Surat Al Baqarah ayat 183)
Nabi Muhammad Saw menegaskan bahwa ibadah puasa di dalam Ramadlan akan bisa menebus dosa-dosa yang telah lewat. Beliau bersabda:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
Artinya: “Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadlan karena Iman dan mengharap pahala dari Allah maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu” (HR Bukhari dan Muslim).

Fiqh Puasa
Puasa dalam Bahasa Arab disebut as-Shaum atau as-Shiyam berarti al-Imsak yaitu menahan diri dari suatu perbuatan. Sedangkan menurut syara’, puasa atau as-shaum adalah menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa puasa sejak terbit fajar sampai terbenamnya matahari disertai dengan niat dan syarat-syarat tertentu. Puasa disebut juga menahan makan dan minum, menahan hawa nafsu, perbuatan dan perkataan yang sia-sia serta perbuatan yang diharamkan oleh Allah SWT.
Puasa di bulan Ramadhan adalah salah satu rukun Islam yaitu ibadah yang hukumnya wajib dilakukan oleh umat muslim yang berakal dan baligh. Syarat-syarat wajib tersebut adalah: (1) beragama Islam; (2) baligh atau cukup umur, laki-laki ditandai mimpi basah, perempuan sudah haid; (3) kuat dan mampu berpuasa; dan (4) berakal, jadi orang majnun tidak wajib puasa.

Sedangkan rukun Puasa Ramadlan ada dua, yaitu (1) niat puasa yang harus diucapkan di dalam hati atau secara lisan pada malam sebelum puasa dimulai atau sebelum terbit fajar; (2) menahan diri dari segala hal yang dapat membatalkan puasa, seperti makan, minum, berhubungan seksual, dan lain-lain. Menahan diri ini harus dilakukan dari fajar hingga terbenam matahari.

Adapun hal-hal yang membatalkan puasa adalah: (1) memasukkan sesuatu ke dalam tubuh dengan sengaja; (2) memasukkan sesuatu ke dalam kubul maupun dubur; (3) muntah dengan sengaja; (4) melakukan hubungan suami istri; (5) keluar air mani dengan sengaja; (6) haid dan nifas; (7) gila dan (8) keluar dari Islam atau murtad.
Manfaat ibadah puasa Ramadlan sangat banyak di antaranya adalah: (1) untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dengan berpuasa dapat menumbuhkan rasa taqwa serta meningkatkan kesadaran spiritual seorang Muslim; (2) berpuasa membuat kita menahan hawa nafsu dan berbudi pekerti luhur berkarakter. Orang yang berpuasa dengan sungguh-sungguh akan membuat sehat jiwanya, sehat dari segala macam penyakit hati seperti sombong, iri, dengki, hasut, riya’, berbohong, bergunjing, merendahkan orang lain, menyakiti pihak lain, dan sebagainya; (3) puasa mengajarkan rasa empati karena selama berpuasa merasakan lapar dan haus seperti yang dialami oleh orang yang hidup dalam kemiskinan; (4) puasa menumbuhkan kedisiplinan dan kemandirian. Dengan menahan diri dari makan, minum, dan kegiatan lain yang dapat membatalkan puasa dari terbit fajar hingga terbenam matahari maka seseorang harus mengandalkan kekuatan dan kemampuan diri sendiri untuk menjalankan puasa dengan baik; (5) puasa dapat menjaga Kesehatan. Puasa Ramadan juga memiliki manfaat kesehatan yang dapat membantu membersihkan tubuh dari racun dan memperbaiki sistem metabolisme tubuh. Puasa juga dapat membantu menurunkan berat badan, menurunkan risiko penyakit jantung, meningkatkan konsentrasi, dan mengurangi peradangan dalam tubuh; dan (6) puasa apat meningkatkan solidaritas sosial. Selama bulan Ramadan, umat Islam sering kali mengadakan kegiatan berbagi makanan dan minuman dengan orang-orang yang kurang beruntung, oleh karena itu kita diajurkan memperbanyak sedekah dan diwajibkan membayar zakat fitrah.


Keistimewaan Ramadlan
Salah satu keistemewaan di bulan Ramadlan adalah bulan diturunkan al-Qur’an (nuzulul qur’an) dan terdapat malam lailatul qodar. Untuk itu, pada bulan Ramadlan ini marilah kita senantiasa perbanyak shalat malam (qiyamul lail), membaca al-Qur’an, berzikir memuji kebesaaran Allah SWT, membaca istighfar untuk memohon ampunan kepada Allah SWT dan bershalawat kepada baginda Rasulullah SAW supaya terikat jiwa-jiwa kita untuk lebih cinta kepada Allah dan Nabi Muhammad Saw agar mendapatkan barokah bulan suci Ramadlan.

Ramadlan adalah momentum penting untuk membersihkan dan mensucikan jasmani dan ruhani kita dengan meningkatkan kesalihan spiritual sekaligus kesalihan sosial dengan memperbaiki hubungan vertikal kita dengan Allah (hablu minalloh) sekaligus memperbaiki hubungan horisontal sesama umat Islam (hablu minannas). Jangan sampai Ramadlan tahun ini kita sia-siakan berlalu begitu saja tanpa ada peningkatan kualitas taqwa kita kepada Allah SWT. []

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *