Sunan Pandanaran / Sunan Bayat dan Syiar Islam

Oleh M Kholidul AdibKetua LTN PCNU Kota Semarang

Pendahuluan
Sunan Bayat atau biasa disebut Sunan Pandanaran adalah Ulama’ penyebar agama Islam di Jawa Tengah khususnya di daerah Semarang, Salatiga, Boyolali hingga Klaten. Beliau juga murid dari Sunan Kalijaga.
Beliau dikenal sebagai wali pengganti Syekh Siti Jenar yang menurut kisah dihukum oleh Dewan Wali Songo. Makamnya terletak di perbukitan Jabalkat di wilayah Kecamatan Bayat, Klaten, Jawa Tengah, dan masih ramai diziarahi orang hingga sekarang. Dari sana pula konon ia menyebarkan ajaran Islam kepada masyarakat wilayah Mataram.

Asal Usul Keluarga
Sunan Pandanaran atau Sunan Bayat sebelumnya dikenal dengan sebutan Ki Ageng Pandanaran yang diyakini hidup pada akhir abad ke-15 dan awal abad ke-16.
Mengenai asal usul Sunan Pandanaran ada beberapa versi. Menurut KH Muhammad Munif Zuhri, pengasuh Ponpes Giri Kusumo Mranggen Demak bahwa Sunan Pandanaran atau Sunan Bayat nama aslinya Syekh Saefuddin adalah putra dari Syekh Maulal Islam yang makamnya di Palembang. Syekh Maulal Islam merupakan putra Syekh Maulana Ishak.
Menurut KH Muhammad Munif Zuhri, Sunan Bayat inilah yang memiliki putera Ki Ageng Pandanaran yang makamnya di Mugas Semarang. Sedangkan versi lain menyebutkan Sunan Pandanaran atau Sunan Bayat putera Ki Ageng Pandanaran I yang makamnya di Mugas.
Adapun versi lain lagi Syekh Maulana Hamzah yang bergelar Pangeran Tumapel atau Pangeran Lamongan. Syekh Maulana Hamzah atau Syekh Kambyah, adalah salah satu putra dari Sunan Ampel dari hasil pernikahan dengan istri kedua Dewi Karimah dan diperkirakan hidup sekitar tahun 1423 hinga 1478.
Catatan kehidupan Syekh Maulana Hamzah ada dalam Serat Candrakanta karya Raden Ngabehi Candra Pradata tahun 1923 yang diterbitkan di Surakarta. Nama Hamzah disebut dalam Serat Walisana karya Sunan Dalem dan Serat Sejarah Demak bernama Syekh Kambyah. Sedangkan dalam naskah Babad Ponorogo, yang menyebutkan bahwa Hamzah menjadi menantu Raja Majapahit, Prabu Girishawardhana (m. 1456–1466), putra Kertawijaya.
Syekh Maulana Hamzah memiliki dua anak yaitu Sunan Bayat dan Sayyid Kalkum Wot Galeh yang menjadi Bupati Ponorogo ke II. Syekh Maulana Hamzah meninggal sekitar tahun 1478 dan diperkirakan dimakamkan di Trowulan, Mojokerto.

Menjabat Adipati Semarang dan Membantu Demak Menyerang Portugis di Malaka
Ki Ageng Pandanaran diangkat sebagai Adipati di Semarang oleh Sultan Demak pada awal abad 16 M. Dalam menjalankan roda pemerintahan Beliau memiliki kepandaian dengan tekun dan ulet dalam berdagang. Karena itu tidak heran jika Beliau memiliki armada angkatan laut yang tangguh.
Pada saat menjabat Adipati Beliau menjadi orang terkaya dan berkuasa di Semarang. Beliau adalah seorang nasionalis sejati. Hal ini terbukti pada waktu Adipati Unus dari Kesultanan Demak menyerang Malaka Beliau membantu Demak dengan mengirimkan tiga kapal perang beserta pasukannya.
Setelah kekalahan pasukan Demak di Malaka dan tiga kapal perang beserta pasukannya tidak kembali maka hal ini membuat Ki Ageng Pandanaran mengalami guncangan batin dan frustasi. Akibatnya Beliau menjadi tidak semangat memimpin dan mulai berubah dari sebelumnya. Jika semula menjalankan amanah memerintah dengan baik dan selalu patuh pada ajaran-ajaran Islam kemudian mulai berubah dengan melalaikan amanah pemerintahan. Begitu juga amanah merawat pondok-pondok pesantren dan tempat-tempat ibadah juga diabaikan.

Melepas Jabatan Adipati dan Menjadi Sunan
Mengetahui hal itu, Sultan Demak mengutus Sunan Kalijaga dari Kadilangu, Demak, untuk segera menyadarkan sang Adipati Atas upaya Sunan Kalijaga, sang Adipati menyadari kelalaiannya. Pada suatu saat Sunan Kalijaga mendekati Ki Ageng Pandanaran untuk berdialog yang intinya mengajaknya untuk mengikuti jejak mendiang ayahnya sebagai ulama. Ki Ageng Pandanaran dapat mengerti apa yang dimaksudkan Sunan Kalijaga dan bersedia dibimbing oleh beliau.
Ki Ageng Pandanaran memutuskan mengundurkan diri dan menyerahkan kekuasaan dan pemerintahan Semarang kepada adiknya. Setelah melepas jabatan Adipati Semarang kemudian dinobatkan sebagai Sunan Pandanaran. Tidak lama kemudian dapat amanah dari Sunan Kalijaga untuk menyebarkan agama Islam di kawasan selatan maka beliau pindah ke selatan, didampingi istrinya, melalui kawasan yang sekarang diberi nama Salatiga, Boyolali, Mojosongo, Sela Gringging dan Wedi. Konon, Sunan Pandanaran yang memberi nama tempat-tempat tersebut.
Sunan Pandanaran lalu tinggal di Jabalkat Tembayat, dan menjadi penyebar agama Islam di sana. Sejak itu Sunan Pandanaran dikenal sebagai Sunan Tembayat atau Sunan Bayat.
Sunan Kalijaga pulang ke Demak untuk mengadakan pertemuan dengan para wali yang saat itu sedang mencari seorang wali sebagai pengganti Syeh Siti Jenar agar jumlah wali tetap 9 (sembilan). Dalam musyawarah itu Sunan Kalijaga mengatakan bahwa pengganti Syeh Siti Jenar itu adalah Sunan Pandanaran atau Sunan Bayat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *