Oleh: Arina Rohmah, S.Psi.I.(Kontributor Website LTN PCNU Kota Semarang)
SEMARANG, nukotasemarang.com – Kamis, 11 Juni 2026 bertepatan tanggal 25 Dzul Hijjah 1447 H masyarakat Pedurungan memperingati haul KH Abu Naim tokoh penting dalam penyebaran Islam di kawasan yang dulu disebut sebagai Penggaron Pedurungan.
Kawasan Penggaron Pedurungan, kini dikenal luas sebagai “kampung santri”, menyimpan jejak sejarah Islam yang panjang dan penuh keteladanan. Di balik masjid dan pondok pesantren yang menjamur di wilayah ini, berdiri satu sosok sentral ulama besar yang menjadi fondasi penyebaran Islam dan penggerak pendidikan keislaman: KH Abu Na’im.
Nama beliau mungkin tak setenar tokoh-tokoh nasional, tetapi kiprah dan warisannya menjadi penopang identitas religius sebuah komunitas yang terus berkembang hingga kini. Dikenal sebagai ulama zuhud dan visioner, KH Abu Na’im adalah peletak dasar dakwah Islam di Penggaron yang masih terasa getarnya setelah satu abad masa hidupnya.
Jejak Keturunan Ulama dan Pejuang
KH Abu Na’im lahir pada kisaran tahun 1850 di Dukuh Godo, Desa Jamus, Mranggen, Demak. Ia adalah anak kedua dari pasangan KH Ismail dan Hj Asiyah. Silsilah keluarga ini bukan sekadar rangkaian nama, melainkan rantai panjang warisan ulama dan pejuang Islam yang bermuara pada Ki Ageng Pandanaran dan terus bersambung sampai Nabi Muhammad SAW. Ini bukan sekadar kebanggaan genealogi, melainkan landasan spiritual yang memperkuat legitimasi KH Abu Na’im dalam berdakwah.
Ayahnya, KH Ismail bin Mbah Mangun bin Taruno, adalah tokoh agama yang berdakwah dengan membangun Masjid Godo pada tahun 1935 M. Beliau diyakini masih keturunan Ki Ageng Pemanahan dan sebagai salah satu sahabat KH Sholeh Darat Semarang—salah satu ulama besar dan pemikir Islam terkemuka di Jawa pada masanya.
Melalui garis keilmuan ini, KH Abu Na’im mengenyam pendidikan Islam sejak dini dan menjadikannya sebagai modal utama dalam misi dakwah di kemudian hari.
Membuka Pemukiman di Penggaron
KH Abu Na’im menikah dengan Hj Khodijah dan menetap di Penggaron dikaruniai lima anak yaitu Hj Aminah (menikah dengan KH. Thohir, domisili di Penggaron mendirikan pesantren al-Ma’rifah yang kemudian berubah menjadi at-Thohiriyah), H Maemunah (menikah dengan KH Abdul Hadi, domisili di Gendong Sendangmulyo yang mendirikan masjid di Gendong Sendangmulyo Tembalang), KH Zaini (menikah dengan Hj. Khodijah domisili di Penggaron), Umi Kulsum (pernah sebentar menjadi istri kedua KH Thohir, setelah istri pertamanya Hj. Aminah wafat, kemudian menikah dengan Kiai Hasyim Gendong Sendangmulyo Tembalang), dan Hj. Zainab (menikah dengan H Tholhah, domisili di Penggaron).
Kawasan Penggaron pada masa itu masih banyak berupa alas yang jarang penduduk. Tanahnya luas, yang kalau kita lihat peta sekarang ini (tahun 2025) membentang dari Masjid Baitunnaim Pedurungan Lor ke barat hingga kawasan hotel Horison Nindya, ke timur hingga pom bensin dekat sungai Babon, dan ke utara hingga kawasan kompleks PP at-Thohiriyah. Hal itu bisa dimaklumi karena saat itu masyarakatnya masih sedikit dan tanah masih murah.
Kondisi masyarakat Penggaron saat itu sebagian besar belum tersentuh dakwah Islam secara menyeluruh. Bahkan, beberapa kelompok masih mempraktikkan tradisi pra-Islam, seperti menyembah matahari atau melakukan ritual pemujaan energi alam.
Berdakwah dari Masjid
Lambat laun jumlah penduduk semakin banyak, KH Abu Na’im pun mulai merintis dakwahnya dengan membangun masjid sebagai pusat aktivitas keagamaan. Masjid yang dibangun menjadi tempat umat Islam menjalankan shalat berjamaah, mengaji, dan kegiatan sosial-religius lainnya.
Dlam perkembangnnya, Ia tidak hanya mendirikan masjid (sekarang diberi nama Masjid Baitun Naim), tetapi juga di wilayah lain seperti Bandungrejo Mranggen, Bangetayu, dan Karanganyar. Dakwahnya yang persuasif dan penuh kasih lambat laun menyentuh hati masyarakat.
Dari satu titik Masjid, ajaran Islam mulai tumbuh menjalar dan membentuk komunitas santri yang kokoh hingga kini. Semangat membangun masjid juga diteruskan oleh anak cucunya seperti Pembangunan Masjing Gendong Tlogomulyo hingga Masjid Kembangarum Mranggen.
Menunaikan Ibadah Haji
Tak berhenti di situ, KH Abu Na’im berangkat menunaikan ibadah haji bersama tujuh anggota keluarganya. Biaya keberangkatan didapatkan dari menjual sebagian tanah miliknya khususnya tanah yang sekarang ini di area sebelah utara / pinggir jalan besar arah Manunggal Jati ke barat hingga hotel Horison Nindiya Pendurungn.
Biaya haji pada masa itu tentu sangat besar dan butuh waktu 7 bulan dalam sekali perjalanan ibadah haji. Ini dilakukan oleh KH Abu Naim dan keluarga mencerminkan komitmen spiritual yang dalam dan keberanian mengambil keputusan untuk meraih barokah dari tanah suci dan ziarah ke makam Nabi Muhammad SAW.
Ulama dan Pendidik Umat
KH Abu Na’im bukan hanya ulama dalam pengertian keilmuan, melainkan juga guru umat. Ia membimbing masyarakat dengan pendekatan penuh kearifan dan kesabaran. Tidak hanya mengajarkan syariat Islam tetapi juga menjadi tabib sunat karena kebutuhan tabib sunat saat itu sagat langka padahal dalam ajaran Islam laki-laki mesti sunat agar bisa terhindar dari kotoran air seni yang najis.
Dalam dakwah di lingkungan yang masih “mentah” secara keagamaan, beliau memilih untuk merangkul, bukan menghakimi. Ia mengajak masyarakat secara bertahap, memberikan pemahaman akan ajaran tauhid, syariat, dan akhlak melalui kegiatan keagamaan yang berkelanjutan.
Mendidik Generasi Pejuang
Sebagai tokoh sentral dalam komunitas, KH Abu Na’im juga dikenal sebagai pejuang dalam gerakan anti kolonialisme. Beliau sosok religius nasionalis yakni sosok yang taat pada agama tetapi juga memiliki cinta tanah air yang tinggi. Jiwa ini Ia miliki dari leluhurnya yang ulama sekaligus pejuang anti penjajah. Beliau wafat kisaran tahun 1830. Meski tidak tercatat dalam barisan tentara bersenjata dalam perang fisik, perjuangannya melawan penjajah dilakukan melalui dakwah yang menyiratkan anti kononialisme.
Jiwa anti kolonialisme diteruskan oleh anak dan menantunya, seperti KH Zaini dan KH Thohir, tumbuh menjadi ulama pejuang yang terlibat langsung dalam perjuangan di era revolusi kemerdekaan pada tahun 1945 dan 1946.
Rumah keluarga KH Abu Na’im bahkan dijadikan markas para pejuang dan tempat berkumpul untuk merancang strategi melawan penjajah. Akibatnya, rumah ini beberapa kali menjadi sasaran penyerbuan hingga dihancurkan termasuk musnahnya tiga almari berisi kitab-kitab berharga milik KH Zaini.
Namun semangat tidak pernah padam. Di tengah keterbatasan, para penerus beliau terus menyalakan obor perjuangan lewat pendidikan dan syiar Islam.
Menumbuhkan Generasi Santri
KH Abu Na’im bukan hanya nama dalam sejarah lokal, tetapi sosok yang telah mengubah wajah Penggaron dari tanah sunyi menjadi kampung yang bersinar dengan cahaya Islam. Keteladanan beliau adalah cermin tentang bagaimana dakwah yang jujur, sabar, dan berlandaskan ilmu dapat membentuk peradaban.
Jejak dakwah KH Abu Naim masih nyata dalam denyut kehidupan masyarakat Penggaron. Suara pengajian dari masjid, musholla dan semangat belajar para santri di pondok-pondok pesantren yang didirikan oleh keturunannya.
Sepeninggal KH Abu Na’im, dakwah dan pendidikannya diteruskan oleh keturunannya. Menantunya, KH Thohir, mendirikan pesantren al-Ma’rifah yang kemudian berkembang menjadi pondok pesantren at-Thohiriyyah yang sekarang dikelola KH Yusuf Masykuri, pesantren Syaroful Millah yang dikelola KH Syarofuddin Husein, pesantren al-Hikmah yang dikelola KH Qodirun Nur dan Hj. Mardliyah, pesantren Nurul Hidayah yang dikelola KH Dr In’amuzzahidin, Azzahro yang dikelola Hj. Amalia Hamdanah, AH, SIP, dan Bustanu Usyaqil Qur’an (BUQ) dikelola oleh keluarga KH Najib. Ini semua menjadi bukti nyata bahwa dakwah KH Abu Na’im diteruskan oleh keluarga dan masyarakat.
Sebagaimana sabda Nabi, “Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.” KH Abu Na’im, tampaknya, telah berhasil merengkuh ketiganya.[]


