Oleh M Kholidul Adib, Ketua Lembaga Ta’lif wan Nashr (LTN) PCNU Kota Semarang
Pendahuluan
Indonesia memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945. Jepang menyerah kepada Sekutu, tetapi tantara Jepang di Indonesia belum mau menyerah kepada pribumi. Puncaknya terjadi pertempuran lima hari di Semarang (15–19 Oktober 1945) yang merupakan pertempuran sengit antara rakyat, laskar santri (Hizbullah dan Sabilillah) dan Badan Keamanan Rakyat (BKR) Indonesia melawan tentara Jepang.
Pasukan Sekutu (di bawah Brigadir Jenderal Bethel) mendarat di Semarang menjelang akhir pertempuran, yaitu sekitar tanggal 19 Oktober 1945. Pertempuran berakhir pada 20 Oktober 1945 setelah ada perundingan damai antara pemimpin Indonesia dan pihak Jepang yang dibantu pasukan Sekutu (Inggris).
Sekutu hendak menancapkan kakinya di Indonesia, maka terjadilah perlawanan rakyat di Semarang dan wilayah sekitarnya secara heroik untuk mempertahankan kemerdekaan dari ancaman tentara Sekutu dan tentara NICA (Netherlands Indies Civil Administration) yang diboncengi oleh Belanda yang hendak menjajah kembali bangsa Indonesia.
Indonesia pascaproklamasi kemerdekaan (1945–1947) menghadapi tentara Sekutu dan NICA-Belanda yang berusaha menguasai kembali kota-kota di Indonesia, termasuk Semarang dan wilayah penyangganya yang semakin panas dengan berbagai insiden bersenjata dan gerilya gerombolan pemuda melawan posisi militer Sekutu dan NICA di dalam kota hingga Kawasan perbataan.
Kondisi Semarang semakin mencekam. Terjadi bentrokan bersenjata antara pejuang Republik/TKR, laskar Hizbullah, laskar Sabilillah dan laskar-laskar lainnya untuk melawan pasukan Sekutu dan NICA yang memicu kerusakan parah. Banyak kampung dan rumah warga dibakar atau dibom untuk melemahkan basis pertahanan pejuang. Terjadi gelombang pengungsian besar-besaran warga dari wilayah Semarang dan sekitarnya seperti Genuk, Penggaron, Bugen, Sayung, Mranggen, Kaliwungu, Srondol dan Ambarawa.
Aparat pendudukan menangkap siapa saja yang dianggap membantu atau melawan kekuasaan Sekutu-NICA. Pertempuran merembet ke berbagai penjuru kota dan pinggiran Semarang, menjadikan perkampungan warga sebagai medan perang langsung.
Warga dari perkampungan padat dan wilayah pinggiran seperti Kauman, Penggaron, Genuk, dan daerah lainnya terpaksa meninggalkan tempat tinggal. Gelombang pengungsi mencari tempat yang lebih aman ke daerah-daerah pedalaman di sekitar Semarang, seperti wilayah Kabupaten Demak, Kendal, Grobogan, dan Salatiga, demi menghindari teror, pemboman, serta baku tembak yang terus terjadi.
Pembentukan Batalyon Bintoro (Laskar Hizbullah Tingkat Karesidenan Semarang)
Batalyon Bintoro adalah satuan pasukan Laskar Hizbullah asal Demak yang memiliki peran sangat strategis dalam pertempuran mempertahankan kemerdekaan di wilayah Semarang pasca-Proklamasi 1945.
Laskar Hizbullah didirikan pada tahun 1944 dengan tujuan mendidik pemuda Islam dalam kemiliteran dan mempertahankan agama dan negara. Setelah proklamasi kemerdekaan, Laskar Hizbullah menjadi bagian dari kekuatan perlawanan terhadap Belanda dan Sekutu.
Di daerah Mranggen, Laskar Hizbullah, bersama dengan kelompok pemuda dan ulama, terlibat dalam pertempuran melawan Belanda.
Laskar Hizbullah di Mranggen dipelopori oleh KH Muslih, seorang ulama pengasuh Pesantren Futuhiyyah di Mranggen, yang merupakan alumni Pendidikan laskar Hizbullah di Cibarusa Bekasi pada 1944.
KH Muslih (Futuhiyyah Mranggen) bersama KH Abdullah Dainuri (Sendangguwo Semarang) mengikuti pelatihan militer anggota Hizbullah di Cibarusa, Februari 1945, bersama 500 peserta lainnya.
Sepulang dari pelatihan, Beliau berdua merekrut pemuda dan membentuk organisasi Hizbullah di tingkat lokal. Beliau berdua melatih pemuda Mranggen dan Semarang Timur di bidang strategi perang, pencak silat, hingga pembekalan spiritual (ilmu hikmah dan kanuragan) untuk membakar semangat jihad melawan penjajah.
Laskar Hizbullah wilayah Demak berkembang sangat pesat sehingga berhasil membentuk satuan setingkat batalyon yang dinamakan Batalyon Bintoro. Organisasi Hizbullah Demak menjadi yang paling maju, yang kemudian menjadi cikal bakal Barisan Hizbullah Divisi Semarang di bawah komando KH Abdullah Dainuri dan KH Muslih Mranggen.
KH Muslih Mranggen menjabat sebagai pemimpin Laskah Hizbullah tingkat Karesiden Semarang (Batalyon Bintoro) beserta KH Abdullah Daenuri (komandan Hizbullah Semarang). Keduanya menunjuk Ustadz Soekaimi untuk mempin pasukan Hizbullah di Markas Medan Tenggara (MMTG) yang pusatnya di Mranggen. Laskar Hizbullah di Mranggen terlibat dalam pertempuran melawan pasukan Belanda dalam Agresi Militer I dan II.
Batalyon Bintoro adalah satuan pasukan Laskar Hizbullah asal Demak yang memiliki peran sangat strategis dalam pertempuran mempertahankan kemerdekaan di wilayah Semarang pasca-Proklamasi 1945. Perang Laskar Hizbullah Batalyon Bintoro di Mranggen melawan Belanda adalah bagian penting dari perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Laskar Hizbullah Batalyon Bintoro, sebagai organisasi perjuangan semi militer berbasis Islam, berperan aktif dalam pertempuran di daerah Semarang, Mranggen dan sekitarnya, melawan tantara NICA (Belanda) dan Sekutu (Inggris).
Perang Laskar Hizbullah Batalyon Bintoro di Mranggen melawan Belanda adalah bagian dari perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia setelah Semarang jatuh kepada Sekutu. Perlawanan Laskar Hizbullah di daerah tersebut menunjukkan semangat juang dan peran penting para pemuda, ulama, dan tokoh masyarakat dalam mempertahankan kemerdekaan.
Saat pertempuran mempertahankan kemerdekaan di Semarang bagian tenggara, KH Abdullah Dainuri dan KH Muslih mengajarkan strategi perang, pencak silat, serta ilmu hikmah seperti Hizbur Rifai, Hizbun Nashar, Hizbus Sakron, dan lembu sekilan. Sanad keilmuan hikmah diperoleh dari KH Wahab Hasbullah sebagaimana tercatat dalam karya KH Bisri Musthofa al-Asma’ wal Aurad.
Selain mengajar dan membimbing murid-murid thariqahnya, ketika pecah perang kemerdekaan, Kiai Muslih juga aktif memimpin laskar Sabilillah. Tak hanya itu, Kiai yang lekat dengan sarung dan sorban melilit di kepalanya itu juga menjadikan Pesantren Mranggen sebagai basis pertahanan seluruh pasukan jihad yang berjuang di sektor Semarang Timur, yang terdiri pasukan Hizbullah, Sabilillah dan Barisan Kiai.
Batalyon Bintoro bersama jaringan Laskar Hizbullah Divisi Semarang lainnya memegang kendali atas Front Timur (Sektor Mranggen-Demak). Mereka menerapkan taktik gerilya kota dan melakukan penghadangan ketat untuk memblokade ruang gerak Sekutu yang ingin merebut wilayah pedalaman Jawa Tengah.
Laskar Hizbullah Batalyon Bintoro khususnya yang bermarkas di wilayah Mranggen yang berbatasan langsung dengan Semarang Timur posisi komandonya berada di bawah koordinasi Markas Medan Tenggara (MMTG) Semarang. Komando lapangan pertahanan sektor ini dipimpin oleh Ustadz Soekaimi, yang ditunjuk oleh KH Abdullah Dainuri dan KH Muslih.
Pasukan Hizbullah Batalyon Bintoro membentengi wilayah timur Semarang agar pasukan penjajah tidak meluas sekaligus menyuplai bantuan ke pusat kota.
Laskar Hizbullah Batalyon Bintoro juga mendapat bantungan dari Laskar Hizbullah Yogjakarta yang datang ke Mranggen untuk perang melawan Belanda.
Pada tangal 11 Oktober 1946, pukul 16.00 pihak NICA Belanda mengadakan serbuan ke front Timur Semarang. Serbuan ini dilawan oleh pasukan Hizbullah kompi Khudhori (Hizbullah Yogjakarta) dan Batalyon Bintoro yang dipimpin komandan lapangan Soekaimi.
Terjadilah perang frontal. Kekuatan pasukan Belanda lebih banyak, dan memang dikerahkan untuk menembus Timur Semarang, maka kompi Hizbullah Yogyakarta ini terpaksa mundur.
Dalam pertempuran itu 17 anggota Hizbullah gugur, sedangkan komandannya yaitu Khudhori luka parah tertembak dan ditusuk bayonet. Jenazah yang gugur itu dimakamkan di makam Syuhada’ Kauman (di lingkungan Masjid Gedhe Yogyakarta).
Ustadz Soekaimi, komandan lapangan Laskar Hizbullah Mranggen juga gugur dalam perang tersebut. Jenazahnya dimakamkan di belakang Masjid Kauman Mranggen.
Selain itu pasukan Hizbullah dari Yogyakarta yang pulang dari Mranggen juga ada yang sakit terkena Malaria Tropika, diantaranya Muhammad Adnan, yang sesampainya di Yogyakarta kemudian wafat, dan dimakamkan di tempat yang sama.
Pascaperang: Reorganisasi dan Peleburan ke TNI
Seiring kebijakan pemerintah untuk menyatukan seluruh laskar rakyat ke dalam satu wadah militer resmi pada tahun 1947, kesatuan-kesatuan Hizbullah mulai meleburkan diri.
Dalam perkembangannya, sisa-sisa kekuatan Laskar Hizbullah dan Sabilillah dari kawasan Semarang, Demak, Kudus, dan Surakarta dilebur menjadi entitas militer reguler. Salah satu hasil konversinya adalah pembentukan satuan resmi yang dipimpin oleh Mayor Munawar, yang di kemudian hari sempat dikenal sebagai Batalyon 426 di Jawa Tengah. []


