Paradigma PMII Harus Dapat Menjawab Tantangan Zaman

Paradigma dalam Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) adalah kerangka pikir dasar yang dipakai kader untuk membaca realitas sosial. Signifikansinya terletak pada peran paradigma sebagai kompas moral dan strategis agar kaderisasi tidak gamang menghadapi disrupsi digital, ketimpangan sosial, serta politisasi identitas di era modern.

Hal demikian disampaikan Dr. M. Kholidul Adib, MSI, pengurus Lembaga Ketahanan dan Distribusi Kader Pengurus Besar Ikatan Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB IKA-PMII) dalam kegiatan Pelatihan Basis Kader PMII (Sabtu, 11 Juli 2026) di Ponpes Al-Maftuhah 2 Karangtengah Demak. Kegiatan tersebut diikuti puluhan kader baik dari Cabang Demak maupun utusan cabang-cabang lain di Jawa Tengah.

Adib menjelaskan bahwa arti paradigma bagi PMII ada tiga yaitu sebagai pola pikir organisasi yang digali dari akar nilai aswaja sekaligus sebagai pisau analisa organisasi dalam mengurai masalah dan mencarikan solusi untuk menjawab tantangan zaman yang sedang dihadapi.

“Sebagai pola pikir organisasi, paradigma PMII merupakan kerangka konseptual untuk memahami, menganalisis, dan memecahkan masalah zaman yang bersumber dari nilai keislaman Ahlussunnah wal Jamaah dan keindonesiaan. Sebagai pisau analisa secara spesifik paradigma menjadi alat ukur untuk melihat relasi kuasa antara negara, masyarakat, dan pasar,” tegas Adib yang mantan Ketua 1 PKC PMII Jawa Tengah periode 2008-2010.

Menurut Adib, keberadaan paradigma PMII saat ini masih sangat penting untuk menjaga arah gerakan guna mencegah kader terombang-ambing arus populisme dan disinformasi digital.

Keberadaannya akan membawa orientasi kader dari wacana normatif menuju aksi nyata yang solutif. Dan yang lebih penting, paradigma dapat membentuk kerangka kognitif (teori sosial), afektif (empati sosial), dan psikomotorik (advokasi riil).

“Paradigma PMII harus dapat menjawab tantangan zaman. Era sekarang kita menghadapi transformasi digital, maka kader PMII dituntut dapat memadukan nilai pergerakan dengan kreativitas teknologi. Maka paradigma PMII harus bersifat produktif guna mengubah tradisi diskusi wacana menjadi karya nyata dan amal saleh yang berdampak.

Selain itu, paradigma PMII harus dapat menjawab isu ketimpangan ekonomi dan krisis lingkungan lewat kebijakan berbasis kepedulian umat,” tandas Adib.

Sejarah Paradigma PMII
Adib mengungkapkan, pada tahun 1995, saat rezim Orde Baru kuat, Pramoedya Ananta Toer menerbitkan novel berjudul Arus Balik. Novel ini menceritakan pergeseran kekuatan maritim dan bagaimana masyarakat Nusantara merespons dominasi asing pada abad ke-16.

Pemikiran dalam novel sejarah Arus Balik (1995) ini menjadi salah satu inspirasi kultural dan intelektual yang mewarnai perumusan paradigma PMII.

Semangat perlawanan dan pembalikan arah inilah yang diadaptasi dalam diskursus organisasi.

PB PMII di era kepengurusan A. Muhaimin Iskandar periode 1994-1997 merumuskan pandangan yang tertuang dalam buku Paradigma: Arus Balik Masyarakat Pinggiran (bukunya diterbitkan pertama kali pada 1997).

Adib menjelaskan paradigma selanjutnya yang pernah lahir dalam pergulatan PMII adalah Paradigma Kritis-Transformatif (PKT) PMII, yaitu kerangka berpikir yang menempatkan organisasi sebagai agen perubahan sosial.

“Paradigma ini berakar dari pemikiran Mazhab Frankfurt, paradigma ini bertujuan membongkar dominasi kekuasaan, menghilangkan penindasan, dan membebaskan masyarakat dari belenggu kapitalisme dan ketidakadilan struktural melalui advokasi serta pendidikan kritis” tutur Adib.

Kata Adib, PKT dicetuskan pada masa kepengurusan PB PMII periode 1997-2000 di bawah Ketua Umum Syaiful Bahri Anshori.

“Paradigma ini lahir sebagai respons terhadap hegemoni dan praktik represif negara saat Orde Baru, serta kejumudan berpikir akibat dogmatisme agama yang menghambat kemajuan masyarakat,” ujar Adib.

Dalam praktiknya, kata Adib, PKT diwujudkan PMII melalui tiga instrumen metodologis utama, yaitu Analisis Sosial (Ansos) guna membaca format dan realitas politik, ekonomi, serta budaya secara obyektif dan subyektif.

Selanjutnya, kata Adib, PMII pernah menggagas paradigma “Menggiring Arus Berbasis Realitas” yaitu arah gerakan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) yang lahir pada masa kepemimpinan Ketua Umum Herry Harianto Azumi (2006–2008). Paradigma ini bertujuan mengubah orientasi gerakan kader yang sebelumnya hanya bersifat sesaat menjadi gerakan strategis jangka panjang yang berpijak pada kenyataan sosial.

“Paradigma ini lahir untuk mengatasi gerakan kader PMII yang sering terbatas pada kegiatan sesaat dan kurang terarah dalam jangka panjang. Paradigma ini menjadikan fakta sosial dan kondisi nyata masyarakat sebagai titik awal dalam merumuskan setiap langkah perjuangan seiring tatanan geo-politik dan geo-ekonomi global yang tidak adil,” ujar Adib.

Dibutuhkan Paradigma yang Bersifat Holistik-Integratif
Menurut Adib, di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks, PMII membutuhkan kerangka paradigma yang utuh dan saling terhubung (holistik-integratif) agar mampu memecahkan masalah zaman yang rumit. Pendekatan ini menggabungkan nilai keagamaan, ilmu pengetahuan, teknologi, serta aksi nyata di tingkat lokal, nasional, hingga global.

“Paradigma holistik-integratif lazim dipakai dalam ilmu kedokteran. Dalam paradigma holistik-integratif, dokter mengobati pasien sebagai manusia seutuhnya—bukan sekadar merawat organ yang sakit. Dokter memadukan sains medis konvensional dengan pemahaman mendalam terhadap kondisi mental, emosional, gaya hidup, sosial, hingga spiritual pasien,’ tutur Adib.

Paradigma ini, kata Adib, harus menggabungkan dzikir, fikir, dan amal saleh agar kader tidak hanya pandai berteori, tetapi juga menghasilkan karya nyata di masyarakat. Paradigma ini juga bermaksud menghubungkan agama dan sains dengan memadukan nilai Islam Ahlussunnah wal Jamaah dengan kemajuan sains modern, kecerdasan buatan, serta literasi digital.

“Paradigma ini ditujukan untuk menjawab berbagai skala masalah, baik yang bersifat lokal, nasional maupun global. Dalam skup lokal, bagaimana kita dapat ikut serta mengatasi kemiskinan warga, masalah pendidikan, dan kerusakan lingkungan sekitar. Dalam skup nasional bagaimana kita dapat mengawal penegakan hukum, keadilan sosial, dan pemerataan ekonomi. Dalam skup global, bagaimana kita dapat menghadapi persaingan dunia, perubahan iklim, dan pergaulan antar bangsa,” ujar Adib.

Adib menambahkan, paradigma PMII kita gunakan untuk mengobati bangsa dan negara kita yang sedang sakit, menyehatkan bangsa dan negara kita. Kalau kita urai banyak masalah di bidang hukum, politik, ekonomi, pendidikan, budaya, lingkungan, dan lain sebagainya yang butuh solusi dari kader PMII.

Di tengah banyaknya masalah yang dihadapi jangan sampai kader PMII menjadi bagian dari masalah, sebaliknya kader PMII harus menjadi dokter yang memberikan solusi bagi perbaikan kehidupan bangsa Indonesia.

“Jangan sampai bangsa-negara ini sakitnya semakin parah hingga tak tertolong terus dead (mati) alias bubar, seperti yang dikhawatirkan Presiden Prabowo kalau Indonesia diramalkan bubar 2030.
Dengan paradigma holistik-integratif kita berjuang untuk menyembuhkan sakitnya bangsa-negara Indonesia agar tetap eksis, tidak punah,” tandas Adib.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *