H Soekaimi (1920 – 1946 M) : Komandan Hizbullah Mranggen Gugur Ditembak Belanda

Oleh M Kholidul Adib
(Ketua LTN PCNU Kota Semarang)

Hari ini tanggal 15 Oktober kita memperingati perang 5 hari di Semarang yang dahulu terjadi pada tanggal 15-19 Oktober 1945 ketika masyarakat Semarang melawan pasukan Jepang yang tidak mau bertekuk lutut kepada Indonesia yg sudah memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945. Perang 5 hari baru usai pada tanggal 19 Oktober 1945 ketika pasukan Sekutu / NICA datang ke Semarang tanggal 19 Oktober 1945 yang berhasil melucuti pasukan Jepang.

Lepas dr Jepang, bangsa Indonesia menghadapi pasukan Sekutu yang baru saja memenangkangkan perang dunia ke-2 yang dibelakangnya ada Belanda yg ingin kembali menjajah bangsa Indonesia.
Rakyat harus kembali berjuang melawan pasukan Sekutu / NICA yang dibelakangnya ada Belanda. Pasukan yang dihadapi bukan pasukan sembarangan tetapi pasukan tempur Sekutu selaku pemenang perang dunia ke-2.

Banyak yang lupa bahwa sejarah perjuangan mempertahankan kemerdekaan juga dilakukan oleh para kiai dan santri yang tegabung dalam sejumlah front spt Barisan Kiai, Laskar Hizbullah, Laskar Sabilillah dan lain-lain.

Di antara peristiwa besar perjuangan laskar santri di Semarang selain keterlibatannya dalam perang 5 hari adalah adanya tragedi penembakan 74 anggota laskar Islam baik dari Barisan Kiai, Hizbullah, dan Sabilillah di wilayah Bugen yang rata2 anggotanya dr Solo Raya yang datang ke Semarang untuk ikut melawan Belanda. Juga tak kalah memilukan adalah peristiwa penembakan 6 pejuang Hizbullah dari Mranggen dan Solo dalam misi pengintaian musuh di daerah Karangias, dekat Genuk.

Pada momentum peringatan 5 hari pertempuran di Semarang dan jelang peringatan hari santri 22 Oktober, seyogyanya kita juga perlu mengenang peristiwa Bugen dan Karangias.

Banyak yang sudah menulis tragedi penembakan laskar Islam di Bugen tapi belum banyak yang menulis tragedi penembakan di Karangias.

Berikut cerita tragedi penembakan 6 laskar Hizbullah di Karangias yang diungkap ketua LTN PCNU Kota Semarang.

Pendahuluan
Ketika deru mesin serdadu Sekutu dan NICA/Belanda memecah keheningan bumi Semarang dan sekitarnya, di tengah kecamuk perang mempertahankan kemerdekaan Indonesia pasca-Proklamasi 1945, lahirlah kisah-kisah heroik yang tertulis dengan tinta emas, sekaligus tetesan darah para syuhada dari kalangan santri terutama yang tergabung dalam lascar Hizbullah (Bizawie, 2014).
Salah satu nama yang harumnya abadi di sela-sela doa dan ingatan masyarakat Mranggen adalah H Soekaimi, seorang komandan Laskar Hizbullah Mranggen yang gugur perkasa di medan laga.

Laskar Hizbullah di Markas Medan Tenggara (MMTG)
Markas Medan Tenggara (MMTG) adalah pusat komando pertahanan pejuang Indonesia di wilayah tenggara Semarang dan sekitarnya (termasuk area Mranggen, Demak) pada masa perang kemerdekaan tahun 1945–1949, menjadi basis koordinasi laskar-laskar perlawanan rakyat, Tentara Pelajar, serta laskar santri Hizbullah dan kiai dalam menghadapi agresi tentara Sekutu, NICA/Belanda di batas timur-tenggara Kota Semarang. Wilayah front meliputi kawasan Tlogosari Kulon, Bugen, Bangetayu, Pedurungan, Penggaron, Tegal Kangkung Kedungmundu, Mranggen dan hingga jalur penghubung strategis ke Gubug Purwodadi.

Keberadaan Laskar Hizbullah di Markas Medan Tenggara (MMTG) yang bermarkas di Mranggen untuk melawan Belanda adalah bagian dari perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia setelah proklamasi. Laskar Hizbullah, sebagai organisasi perjuangan semi militer berbasis Islam, berperan aktif dalam pertempuran di daerah Mranggen dan sekitarnya, melawan tentara Belanda dan Sekutu.
Organisasi Hizbullah di wilayah Demak dan Semarang berkembang pesat di bawah bimbingan spiritual dan militer para kiai. Di wilayah Mranggen, kekuatan bersenjata santri dikonsolidasikan ke dalam Batalyon Bintoro yang terafiliasi dengan Barisan Hizbullah Divisi Semarang. Gerakan ini dipelopori oleh tokoh ulama kharismatik seperti KH Muslih Mranggen dan KH Abdullah Dainuri Sendangguwo.

Para santri tidak hanya dibekali kemampuan taktis dasar, tetapi juga keilmuan spiritual (ilmu hikmah dan pencak silat) untuk memperkuat mentalitas bertempur. Ketika gesekan bersenjata dengan tentara Belanda memuncak di pusat kota Semarang, struktur pertahanan langsung diorganisasikan ke sejumlah markas, salah satunya di Markas Medan Tenggara (MMTG) Semarang. Markas ini memegang kendali atas jalur vital Semarang-Purwodadi. Dalam struktur komando taktis lapangan inilah H Soekaimi ditunjuk sebagai komandan pergerakan pasukan (KH M Hanif Muslih, 2020).
Gugurnya H Soekaimi dan 5 Rekan Laskar Hizbullah

H Soekaimi merupakan salah satu pemuda pejuang lokal yang direkrut oleh KH Muslih Abdurrahman (Mursyid Tarekat sekaligus Pengasuh Pesantren Futuhiyyah Mranggen). Setelah mengikuti pelatihan militer Hizbullah di Cibarusa, KH Muslih an KH Abdullah Dainuri mengonsolidasikan Laskar Hizbullah di wilayah Mranggen Demak guna membentengi wilayah timur Semarang agar pasukan penjajah tidak meluas ke pedalaman Jawa Tengah. H Soekaimi ditunjuk oleh KH Muslih dan KH Abdullah Dainuri sebagai komandan lapangan pertahanan sektor Timur. Posisi komandonya berada di bawah koordinasi Markas Medan Tenggara (MMTG) Semarang yang berpusat di Mranggen.

Dalam buku Hizbullah Surakarta 1945-1950, dijelaskan bahwa H Soekaimi dan 5 laskar Hizbullah lainnya (dari berbagai daerah di Jawa Tengah) gugur di Karangingas Genuk. Kejadianya pada malam hari tanggal 29 Juli 1946. Ceritanya 6 orang anggota lascar Hizbullah diberi tugas berencana melakukan pengamatan di Tlogotimun Genuk (Soepanto, 1929: 108-110).

Sesuai rencana, pagi setelah sholat subuh 30 Juli 1946 berbekal karabin mereka berangkat (Karabin atau terkul adalah senjata api yang daya tembaknya tidak sebesar senapan panjang karena ukurannya lebih pendek. Banyak karabin dikembangkan dari senapan laras panjang. Meski menembakkan amunisi yang sama, kecepatan proyektilnya lebih rendah). Ternyata perhitungan mereka meleset. Di Dukuh Karangias Desa Sambiredjo Kecamatan Genuk Kabupaten Demak (sekarang daerah bagian barat Bangetayu Kulon Genuk Semarang), musuh telah mencium pergerakan mereka melalui mata-matanya. Masuklah mereka ke dalam perangkap dengan dihujani peluru dari beberapa jurusan. Setelah gugur, tubuh mereka dirusak. Butuh waktu 3 hari untuk mengambil jenazah mereka, karena begitu ketatnya penjagaan musuh. Beliau-beliau anggota Laskar Hizbullah yang gugur: 1. Soekaimi (Komandan Hizbullah cie I Bn II Mranggen), 2. Mustajab (dari pasukan Gaco, beliau berasal dari Palur Karanganyar), 3. Rebo (mantan Kaigun yang asli Mranggen), 4. Tamsiri (asal Solo), 5. Mahmudi dan 6. Musran (Soepanto, 1992: 108-110).

Pemakaman di Kompleks Masjid Mranggen
Setelah 3 hari dari kejadian, jenazah H Soekaimi dan 5 pasukan Laskar Hizbullah lainnya baru bisa dievakuasi dan dimakamkan tanggal 3 Agustus 1946. Mereka gugur sebagai syuhada’. Penghormatan tertinggi diberikan kepada para syuhada’ untuk dimakamkan di sebelah kanan belakang Masjid Baiturrahman Kauman Mranggen. Dalam tradisi Islam, pejuang yang gugur melawan penjajah dikategorikan wafat dalam status jihad fi sabilillah.
Dalam perkembangannya 5 jenazah dipindah ke makam Pahlawan di Semarang dan Solo, sedangkan jenazah H Soekaimi masih dipertahankan sesuai keinginan keluarganya. Makam tokoh pahlawan lokal di belakang Masjid Kauman Mranggen ini berfungsi memelihara ingatan historis generasi penerus santri mengenai harga sebuah kemerdekaan nasional. []

Daftar Pustaka
Bizawie, Zainul Milal, Laskar Ulama-Santri & Resolusi Jihad: Garda Depan Menegakkan Indonesia (1945- 1949), (Tangerang: Pustaka Compass Tangerang, 2014).
Muslih, KH. Muhammad Hanif, dkk, Kiai Muslih Mranggen: Sang Penggerak dan Panutan Sejati, (Formaci (Forum Masyarakat Santri Cendekia, 2020).
Soepanto, Hizbullah Surakarta 1945-1950, (UMS Karanganyar / Surakarta, 1992).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *